PATI - Di Desa Godo, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, suasana kehangatan tak terlukiskan mewarnai pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-128. Sejak memasuki pekan pertama, garis pemisah antara seragam loreng prajurit TNI dan pakaian keseharian warga seolah luntur, digantikan oleh jalinan akrab yang tumbuh subur dari hari ke hari. Selasa (28/4/2026).
Di sela-sela kesibukan membangun, gelak tawa dan obrolan ringan menjadi pemandangan lazim. Kehadiran warga di lokasi TMMD bukan semata untuk bergotong royong, melainkan juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi dengan para anggota Satgas.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Mbah Muinah, wanita berusia 75 tahun yang hampir setiap pagi hadir di lokasi. Meskipun fisiknya tak lagi memungkinkan untuk terlibat dalam pekerjaan berat, Mbah Muinah tetap hadir untuk sekadar berbagi cerita dan memberikan semangat bagi para prajurit.
"Saya heran, biasanya TNI terlihat tegas, tapi di sini kok pintar bercanda, " tutur Mbah Muinah dengan logat Jawa yang kental, sembari mengembangkan senyum hangatnya. Selasa (28/4/2026).
Bagi para prajurit, kehadiran tokoh sepuh seperti Mbah Muinah justru menjadi suntikan energi tersendiri. Interaksi sederhana inilah yang kian memperkuat kedekatan emosional antara TNI dan masyarakat.
Praka Septi Setyawan, salah satu anggota Satgas TMMD, mengungkapkan makna mendalam di balik kebersamaan ini.
"Kami hadir bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun kedekatan dengan masyarakat. Karena sejatinya, ibu kandung TNI adalah rakyat, " tegasnya. Selasa (28/4/2026).
Semangat gotong royong yang terjalin di Desa Godo, menurutnya, menjadi bukti nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat. Lebih dari sekadar bekerja bersama, mereka berbagi cerita, tawa, dan kepedulian.
Program TMMD ke-128 di Desa Godo ini tak hanya melahirkan bangunan fisik yang kokoh, tetapi juga menenun kembali ikatan sosial yang kuat di tengah masyarakat. Dari obrolan santai hingga kerja bahu-membahu di lapangan, semua adalah bagian tak terpisahkan dari upaya membangun desa yang lebih maju dan harmonis.
Di Desa Godo, kebersamaan kini bukan sekadar kalimat indah—ia adalah denyut kehidupan yang nyata dalam setiap langkah pengabdian.
(Agung)
